Komparatisme Dan Sinema Sastra

Sejarah Teori Sastra: Mimesis dan Diegesis – Lusius Aditya

Posted on: June 22, 2009

Sejarah Teori Sastra: Mimesis dan Diegesis (updated)

oleh : Lusius Aditya – Sastra Prancis UGM ’06

Abstrait : L’étude des genres litteraire, premièrement s’est faite à partir de la distinction entre mimesis et diegesis par Plato et Aristote (datant de 4em siècle a..J.C.). Plato opinion sur la littérature est fondée par sa conception de mimesis (imiter ou copier). Plato dit dans son livre Republica que la littéraire n’est plus que l’imitation du réel, mais Aristote dispute que la littérature est catharsis (épuration), qu’elle purifie l’âme. Neanmoins, leurs opinions sur diegesis sont similaires, que diegesis est un oeuvre faisant intervenir un narrateur. Tragédie, comédie sont des littéraires qui totallement imitent, d’autre part, épiques et poésies assimilent entre mimesis et l’imitation d’une personnalité par la voix et le geste.

1. Mimesis Kritik sastra sudah ada sejak lama. Menurut Abrams, awalnya pembelajaran mengenai sastra yang dimulai pengungkapan Plato abad ke 4 SM mengenai mimesis (tiruan) pada kritik Plato terhadap sastra. Ia sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republica bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari ide, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya. Bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan ide ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan Sedangkan Aristoteles, muridnya sendiri adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya. Dalam bukunya Peotica, Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.

2. Diegesis Walaupun berbeda pandangan mengenai mimesis, keduanya memiliki pandangan yang sama bahwa diegesis dan mimesis adalah dua hal yang sangat kontras, terutama dalam bidang sastra. Mimesis dianggap “mempertunjukkan” sesuatu, dibanding dengan diegesis yang dimaksud “menceritakan” suatu perbuatan yang ditetapkan. Diegesis adalah menceritakan sesuatu oleh sang narator. Aristoteles dan Plato berpendapat sejalan mengenai apa itu diegesis. Narator dapat memberitahu tentang karakter tertentu, atau “narator yang tidak terlihat” (dalam prosa) bahkan “narator yang berkuasa” (dalam pencerita atau pendongeng yang mengarang cerita) yang berbicara dapat berkomentar subjektif mengenai perbuatan dan tokoh tiap karakternya. Dalam bagian kesepuluh Republica, Plato juga membagi tipe sastra dalam empat bentuk, yaitu komedi, tragedi, epic (cerita kepahlawanan) dan puisi. Walau kesemuanya sama-sama menarasikan sebuah kejadian, tetapi aliran ini dibedakan berdasar maksud yang berbeda. Dia membaginya berdasarkan narasi atau laporan (deigesis) dan representasi atau imitasi (mimesis). Tragedi dan komedi, menurut Plato, adalah tipe yang meniru secara total; dan gabungan antara keduanya dapat ditemukan dalam puisi epic. Ketika menarasikan atau melaporkan, lanjut Plato, puisi berbicara menurut sudut pandangnya sendiri, dan tidak pernah mengarahkan kita untuk menikmati cerita itu dari sudut pandang orang lain. Dalam melakukan proses imitasi, puisi menghasilkan perpaduan antara dirinya dan orang lain, lewat suara atau gerakan. Sedangkan dalam Poetica, Aristoteles juga berpendapat bahwa jenis “puisi” (termasuk drama, musik dan lirik) dapat dibagi melalui tiga cara: dibagi menurut mediumnya, objeknya, atau menurut caranya ; jika medium dan objeknya sama, maka puisi tak lebih dari tiruan sebuah narasi –saat puisi tersebut bisa menampilkan kepribadian yang berbeda seperti contoh dalam epik Homer atau berbicara mewakili dirinya sendiri, tak berubah menjadi kepribadian yang lain (tak menirukan suara ataupun gerakannya)—ia dapat menghadirkan karakternya sendiri (karakter sebagai narator) yang hidup dan bergerak.

 

3. Sinetron ‘Isabella’ dan ‘Manohara’, bukti nyata mimesis

Pandangan Plato mengenai mimesis telah jauh berkembang dalam penerapannya di berbagai sudut pandang ilmu di seluruh dunia. Begitu pula penerapannya dalam ilmu sastra. Mimesis dalam karya sastra terbukti telah memunculkan berbagai teori, salah satunya komparatisme sastra. Namun yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah benar Plato mengenai mimesis; yang menyatakan bahwa sastra hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan, tidak lagi relevan dalam sastra saat ini?
Kasus ke-mimesis-an itu ternyata masih dapat ditemukan dalam beberapa sinetron yang terinspirasi atau tepatnya ‘menjiplak’ kehidupan salah seorang model Indonesia yang bernama Manohara Audelia Pinot. Sinetron berjudul ‘Isabella’ dan ‘Manohara’ yang telah ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi, alurnya terang-terangan menjiplak lika-liku kehidupan model tersebut, terlebih sinteron ‘Manohara’ yang bahkan menggunakan model tersebut sebagai artisnya.
Mimesis yang melakonkan kenyataan dalam sastra teraplikasikan dalam penjiplakan sinetron tersebut. Proses penjiplakan tersebut memang tidak ada salahnya, namun dari sudut pandang Plato, penjiplakan tersebut bernilai rendah, tanpa unsur imaginasi. Jika memakai kasus contoh sinteron ini sebagai bahan kajian, maka saya yakin Aristoteles tidak akan mampu mengelak dari ke-mimesis-an karya sastra. Terlebih karena karya sastra tersebut tidak mengandung unsur kreatif dan katharsis yang diungkapkan Aristoteles. Mungkinkah dalam kasus ini sastrawan lebih rendah daripada tukang kayu atuapun tukang-tukang lainnya? Apakah sinteron Indonesia sudah sebegitu rendanya hingga tidak dapat menghasilkan proses kreatif lagi?

2 Responses to "Sejarah Teori Sastra: Mimesis dan Diegesis – Lusius Aditya"

Lucy, il te fo une analyse, une application!

application? ben, l’autre travail pour moi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender..Biar Inget Tanggal..

June 2009
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Counter dan Statistik Blog

  • 7,731 hits

Apa Si Isi Blog ini?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: